Realitas Tarif Trump 2025: Defisit Dagang AS Masih Melebar

Kebijakan tarif agresif AS sepanjang 2025 mengubah peta dagang global. Simak data impor China yang anjlok dan dampaknya ke volatilitas pasar saham

Realitas Tarif Trump 2025: Defisit Dagang AS Masih Melebar

Jakarta, Gotrade News - Sepanjang 2025, kebijakan proteksionisme Presiden Donald Trump telah mengubah lanskap ekonomi global secara drastis melalui penerapan tarif impor yang agresif.

Langkah ini tidak hanya memicu volatilitas pasar yang secara langsung mempengaruhi pergerakan SPDR S&P 500 ETF Trust, namun juga membebani struktur biaya konsumen dan bisnis di Amerika Serikat secara signifikan.


Key Takeaways:

  • Rata-rata tarif impor AS mencapai 17 persen pada November, level tertinggi sejak 1935.
  • Meski pendapatan tarif tembus US$236 miliar, defisit perdagangan year-to-date naik 17 persen dibanding 2024.
  • Impor dari China anjlok 25 persen, sementara Meksiko dan Vietnam mengambil alih pangsa pasar.

Data terbaru dari Yale Budget Lab menunjukkan tarif efektif AS mencapai level tertinggi dalam hampir satu abad, dengan rata-rata mendekati 17 persen pada November 2025. Angka ini melonjak tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata Januari, menandakan bahwa beban biaya impor kini telah beralih sepenuhnya ke pundak pelaku bisnis dan rumah tangga AS.

Dari sisi pendapatan fiskal, kebijakan ini memang berhasil mengumpulkan lebih dari US$236 miliar bagi kas negara hingga November 2025, jauh melampaui angka tahun-tahun sebelumnya. Namun, data menunjukkan bahwa pendapatan tersebut masih terlalu kecil untuk menggantikan pajak penghasilan federal atau menutup celah neraca perdagangan seperti yang dijanjikan.

Defisit perdagangan AS justru mencatat kenaikan 17 persen secara year-to-date dibandingkan periode yang sama pada 2024, meskipun sempat menyempit di bulan September. Lonjakan defisit terbesar terjadi pada Maret, saat pelaku bisnis bergegas melakukan impor besar-besaran untuk mengamankan stok sebelum tarif baru berlaku efektif.

Dampak struktural paling signifikan terlihat pada pergeseran rantai pasok global, di mana nilai impor AS dari China anjlok hampir 25 persen akibat tarif yang mencapai 47,5 persen. Posisi China sebagai mitra dagang utama kini telah digeser, sementara volume impor dari negara alternatif seperti Meksiko, Vietnam, dan Taiwan justru mengalami peningkatan substansial.

Ketidakpastian kebijakan ini juga menjadi pemicu utama volatilitas di pasar saham, dengan SPDR S&P 500 ETF Trust mencatat ayunan harga harian dan mingguan terbesar pada bulan April. Pola ini menegaskan bahwa bagi investor, risiko kebijakan perdagangan kini menjadi faktor fundamental yang sama pentingnya dengan laporan kinerja emiten.

Apa langkah selanjutnya bagi kamu? Perhatikan laporan inflasi AS mendatang, karena tingginya tarif efektif yang bertahan hingga akhir tahun berpotensi menjaga harga barang tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Referensi:


Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Read more