Prediksi Saham Perusahaan Minyak: Efek Venezuela & Harga $50
Harga minyak Brent berisiko jatuh ke $50 akibat potensi banjir pasokan dari Venezuela pasca-operasi AS. Simak posisi strategis Chevron dan tren energi AI.
Jakarta, Gotrade News - Tahun 2025 menjadi periode penuh tekanan bagi pasar energi global, namun 2026 membawa variabel baru yang lebih dinamis pasca-operasi Absolute Resolve di Venezuela. Investor kini perlu mencermati potensi banjir pasokan baru yang bisa mengubah valuasi sektor ini secara drastis.
Key Takeaways
- Harga minyak berisiko jatuh ke level 50 dolar AS akibat kombinasi output AS dan potensi kembalinya pasokan Venezuela.
- Raksasa migas Barat diprediksi berebut aset gas Venezuela untuk mendukung transisi energi.
- Fokus emiten energi meluas ke penyediaan listrik gas alam untuk data center AI.
Baca Juga: Detik-detik Penangkapan Presiden Venezuela Maduro: Operasi Absolute Resolve
Risiko terbesar tahun ini adalah potensi harga minyak mentah yang bisa tertekan hingga menyentuh level 50 dolar AS per barel. Prediksi ini didasarkan pada kondisi kelebihan pasokan global (supply glut) yang kini memiliki katalis baru.
Menurut analisis The Motley Fool, output dari Permian Basin AS dan OPEC sudah cukup menekan harga. Namun, penangkapan Presiden Venezuela berpotensi membuka kembali keran ekspor salah satu pemilik cadangan minyak terbesar dunia tersebut ke pasar Barat.
Situasi ini menempatkan Chevron Corporation pada posisi strategis yang unik. Sebagai salah satu perusahaan AS yang sudah "mencuri start" beroperasi di Venezuela, mereka memiliki keunggulan kompetitif jika sanksi dicabut total.
Selain minyak, narasi "harta karun gas" di Venezuela kini relevan dengan tren kebutuhan energi teknologi. Sektor gas alam diproyeksikan tumbuh signifikan berkat lonjakan permintaan listrik dari pusat data AI.
Laporan pasar mencatat Chevron Corporation telah berkolaborasi dengan GE Vernova untuk membangun pembangkit listrik tenaga gas. Langkah ini sejalan dengan upaya global mengamankan pasokan gas murah.
Inisiatif serupa dilakukan Exxon Mobil Corporation yang mengembangkan proyek 1,2 gigawatt bersama NextEra Energy, Inc.. Diversifikasi ke infrastruktur listrik ini menawarkan pendapatan yang lebih stabil di tengah volatilitas harga minyak mentah.
Baca Juga: AS Incar Minyak Venezuela Lagi, Chevron Curi Start Duluan
Bagi investor, 2026 bukan sekadar soal harga komoditas, melainkan siapa yang paling cepat mengamankan aset gas global dan infrastruktur energi AI.
Referensi:
- The Motley Fool, 3 Bold Oil Market Predictions for 2026. Diakses pada 5 Januari 2026
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.