Pencarian "AI Bubble" Meroket 950%, Sinyal Apa Ini?

Pencarian Google untuk "AI bubble" melonjak 950%. Apakah ini sinyal gelembung baru seperti dot-com, atau fundamentalnya berbeda?

Pencarian "AI Bubble" Meroket 950%, Sinyal Apa Ini?

Jakarta, Gotrade News - Di tengah gegap gempita kemajuan artificial intelligence (AI), muncul satu kekhawatiran besar yang mulai menghantui investor. Apakah kita sedang menyaksikan terulangnya sejarah, sebuah gelembung spekulatif yang siap meledak?

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Data terbaru menunjukkan bahwa masyarakat di Amerika Serikat semakin cemas dengan valuasi sektor AI yang tampak terlalu tinggi.

Pencarian "AI Bubble" Meroket

Menurut data Google Trends yang diambil oleh Finbold, pencarian untuk istilah "AI bubble" atau "gelembung AI" di AS telah meroket 950% dalam setahun terakhir. Ini adalah sinyal jelas bahwa keraguan publik sedang meningkat.

Popularitas pencarian ini melonjak dari skor 8 pada tahun lalu menjadi 84 pada minggu yang berakhir 15 November. Bahkan, minat pencarian ini sempat mencapai puncaknya di skor 100 pada awal November.

Menariknya, lonjakan pencarian ini paling terlihat di wilayah-wilayah yang menjadi pusat kebijakan dan teknologi, seperti District of Columbia, Washington, Massachusetts, Maryland, dan New York.

Gema Krisis Dot-com?

Akselerasi pencarian ini mencerminkan kecemasan yang lebih dalam. Banyak pihak kini membandingkan booming AI saat ini dengan gelembung Dot-com di akhir tahun 1990-an.

Peringatan datang dari berbagai penjuru, termasuk ekonom, investor, dan bank sentral. Menurut Finbold, banyak yang berpendapat bahwa sebagian ekosistem AI sudah "terlepas dari fundamental bisnis".

Valuasi untuk startup AI telah meroket, meskipun aliran pendapatan mereka seringkali masih terbatas atau bersifat eksperimental. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar menggelontorkan dana fantastis untuk infrastruktur seperti pusat data, tanpa bukti pengembalian investasi jangka pendek yang jelas.

Banyak analisis menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang menerapkan AI generatif belum melihat peningkatan produktivitas atau penghematan biaya yang berarti. Ini mengingatkan pada ketidakcocokan antara hype dan profit yang menjadi ciri khas era Dot-com.

Beda Dulu, Beda Sekarang

Meskipun paralel dengan era Dot-com cukup jelas, ada perbedaan fundamental pada booming AI saat ini. Ledakan AI yang dipimpin oleh perusahaan seperti Nvidia dan Palantir memiliki fondasi yang berbeda.

Gelembung internet didorong oleh ide bisnis yang belum terbukti dan perlombaan untuk "online" sebelum model monetisasinya ada.

Sebaliknya, kemampuan inti AI saat ini sudah tertanam dalam platform yang kamu gunakan sehari-hari. Mulai dari mesin pencari, platform cloud, perangkat lunak perusahaan, hingga aplikasi konsumen.

Perusahaan teknologi besar yang berinvestasi besar-besaran di AI saat ini adalah perusahaan yang sudah profit, kaya akan uang tunai, dan mengoperasikan bisnis yang mapan. Ini sangat berbeda dengan startup spekulatif yang mendominasi periode Dot-com.

Risiko Tetap Ada

Namun, kekuatan fundamental ini tidak menghilangkan risiko. Para ekonom memperingatkan bahwa meskipun AI terbukti transformatif dalam jangka panjang, laju belanja saat ini mungkin tidak berkelanjutan.

Jika pendapatan gagal mengimbangi laju belanja, ini dapat memicu "koreksi yang menyakitkan" di pasar. Koreksi adalah istilah untuk penurunan harga aset yang tajam setelah kenaikan yang cepat.

Kekhawatiran utamanya adalah perusahaan mungkin "terlalu banyak membangun" kapasitas komputasi dan "terlalu optimis" dalam memperkirakan seberapa cepat bisnis dapat mengadopsi dan menghasilkan uang dari sistem AI canggih.

Referensi:

Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Read more