Laba Robinhood (HOOD) Meroket, Kenapa Sahamnya Malah Anjlok?

Robinhood (HOOD) lapor laba Q3 naik 271% tapi sahamnya turun. Ini alasan di balik mundurnya CFO dan pendapatan crypto yang meleset dari ekspektasi

Laba Robinhood (HOOD) Meroket, Kenapa Sahamnya Malah Anjlok?

Jakarta, Gotrade News - Perusahaan broker online Robinhood (HOOD) baru saja merilis laporan pendapatan Kuartal Ketiga (Q3) yang sangat kuat. Laba dan pendapatan melonjak, mengalahkan ekspektasi Wall Street.

Namun, ada yang aneh. Saham perusahaan justru turun tajam, ditutup anjlok sekitar 10.8% pada hari Kamis menurut laporan CFO Dive.

Mengapa kinerja keuangan yang baik justru direspons negatif oleh pasar? Jawabannya terletak pada tiga pengumuman penting yang dirilis bersamaan.

Tiga Alasan Saham Robinhood Anjlok

Meskipun laba mengesankan, investor tampaknya lebih fokus pada berita lain.

Pertama, perombakan di jajaran eksekutif. Jason Warnick, yang telah menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) selama tujuh tahun, mengumumkan akan mundur. Warnick bergabung dengan Robinhood pada 2018 setelah berkarir di raksasa e-commerce Amazon (AMZN).

Menurut CFO Dive, Warnick akan beralih peran menjadi penasihat strategis pada Q1 2026 sebelum pensiun dari perusahaan. Ia akan digantikan oleh Shiv Verma, seorang veteran keuangan internal Robinhood.

Kedua, pendapatan dari trading crypto meleset dari ekspektasi analis. Meskipun bisnis crypto-trading Robinhood tumbuh 300% menjadi $268 juta, angka ini masih di bawah perkiraan menurut laporan Bloomberg yang dikutip CFO Dive.

Analis dari JPMorgan (JPM) menyebut bahwa pendapatan crypto yang meleset ini membebani harga saham.

Ketiga, panduan biaya operasional. Seeking Alpha melaporkan bahwa panduan biaya operasional yang disesuaikan untuk setahun penuh bisa jadi lebih tinggi, diperkirakan sekitar $2.8 miliar.

Seberapa Kuat Kinerja Q3 Robinhood?

Di luar sentimen negatif jangka pendek, angka-angka Q3 Robinhood sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang eksplosif.

CFO Dive melaporkan pendapatan perusahaan naik 100% dari tahun ke tahun (YoY) mencapai $1.27 miliar.

Laba bersihnya bahkan lebih impresif, melonjak 271% YoY menjadi $556 juta. Ini adalah angka yang solid yang melampaui konsensus analis.

Analis Masih Optimis

Para analis Wall Street tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan saham jangka pendek.

Analis KeyBanc, seperti dilaporkan Seeking Alpha, mengakui bahwa transisi CFO dan biaya yang lebih tinggi dapat "mendorong pengawasan" tetapi tetap nyaman dengan momentum produk inti perusahaan.

Analis dari Deutsche Bank (DB) juga tetap positif. Meskipun mereka menurunkan asumsi pendapatan crypto karena penurunan harga aset baru-baru ini, mereka masih melihat "kekuatan operasional yang solid" dan "eksekusi yang kuat" dari Robinhood.

Mizuho bahkan lebih optimis, menyebut 2025 sebagai tahun yang "luar biasa" untuk Robinhood. Analis Dan Dolev menyoroti produk baru seperti Prediction Markets yang telah melampaui $100 juta pendapatan tahunan dalam waktu kurang dari setahun.

Pada akhirnya, penurunan saham Robinhood menunjukkan bagaimana ekspektasi pasar seringkali lebih berpengaruh daripada kinerja masa lalu.

Meskipun perusahaan mencetak laba besar, kekhawatiran atas masa depan pendapatan crypto dan peningkatan biaya operasional, ditambah dengan kepergian CFO, cukup untuk membuat investor cemas.

Referensi:

Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Read more