Klaim Pengangguran AS Naik: Bagaimana Strategi Investor?
Klaim pengangguran AS naik ke 232.000 di tengah data yang kacau akibat shutdown. Pahami dampaknya ke suku bunga The Fed dan strategi investasimu di sini.
Jakarta, Gotrade News - Pasar keuangan global kembali dikejutkan oleh data terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan adanya pelemahan di sektor tenaga kerja.
Bagi kamu yang berinvestasi di pasar saham AS, memahami dinamika ini sangat penting karena kondisi pasar tenaga kerja adalah salah satu indikator utama yang dipantau oleh bank sentral dalam menentukan arah kebijakan ekonomi.
Namun situasi kali ini sedikit lebih rumit dari biasanya karena adanya gangguan data akibat penutupan sementara layanan pemerintah atau government shutdown yang baru saja berakhir. Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa ini relevan untuk strategi investasimu.
Sinyal Pelemahan dari Pasar Tenaga Kerja
Laporan terbaru menunjukkan bahwa jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurut laporan dari Forbes, permohonan tunjangan pengangguran awal atau initial jobless claims mencapai angka 232.000 pada pekan yang berakhir 18 Oktober.
Angka ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan hanya ada 223.000 klaim. Initial jobless claims adalah data yang mencatat berapa banyak orang yang baru saja kehilangan pekerjaan dan meminta bantuan pemerintah untuk pertama kalinya. Kenaikan angka ini bisa menjadi sinyal awal bahwa perusahaan-perusahaan mulai mengurangi jumlah karyawan mereka.
Selain itu data continuing claims atau jumlah orang yang masih terus menerima tunjangan pengangguran juga mengalami kenaikan. Seperti yang dilaporkan oleh Reuters, angka ini naik menjadi 1,957 juta orang dari sebelumnya 1,916 juta pada pertengahan September.
Kenaikan continuing claims ini mengindikasikan bahwa orang-orang yang sudah menganggur semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru. Ini adalah tanda bahwa perekonomian mungkin sedang melambat karena perusahaan menahan diri untuk merekrut pegawai baru.
Kondisi pasar tenaga kerja yang lesu ini juga tercermin dari laporan pihak swasta. Automatic Data Processing, Inc. yang merupakan perusahaan manajemen sumber daya manusia melaporkan bahwa sektor swasta terlihat sedang berjuang keras.
Data mereka menunjukkan bahwa perusahaan swasta rata-rata memangkas 2.500 pekerjaan per minggu dalam periode empat minggu yang berakhir pada 1 November. Ini menguatkan dugaan bahwa tantangan ekonomi mulai berdampak nyata pada keputusan bisnis perusahaan di AS.
Kekacauan Data Akibat Shutdown Pemerintah
Satu hal yang membuat analisis pasar saat ini menjadi lebih menantang adalah ketidakpastian data. Penutupan pemerintah AS selama 43 hari yang baru saja berakhir telah mengganggu proses pengumpulan dan pelaporan data ekonomi penting.
Departemen Tenaga Kerja AS bahkan mengakui adanya masalah teknis dalam perilisan data ini. Seperti yang dikutip dari Reuters, seorang juru bicara Departemen Tenaga Kerja menyatakan bahwa masalah teknis menyebabkan data parsial terposting lebih awal dan seri data lengkap baru akan tersedia pada 20 November 2025.
Kekosongan data selama beberapa minggu membuat para ekonom dan pelaku pasar seperti meraba-raba dalam gelap. Forbes menyoroti bahwa shutdown ini adalah yang terlama dalam sejarah AS dan mengakibatkan beberapa laporan ekonomi penting tertunda.
Gedung Putih bahkan memperingatkan bahwa tingkat pengangguran untuk bulan Oktober mungkin tidak akan pernah dipublikasikan secara akurat karena data dari rumah tangga tidak dapat dikumpulkan selama periode penutupan tersebut.
Bagi investor ketidakpastian data ini bisa memicu volatilitas atau naik-turunnya harga saham secara tajam dalam waktu singkat. Pasar saham sangat tidak menyukai ketidakpastian. Ketika investor tidak memiliki gambaran jelas tentang kesehatan ekonomi, mereka cenderung lebih berhati-hati atau spekulatif yang bisa menggerakkan indeks pasar utama seperti SPDR S&P 500 ETF Trust.
Dampak Domino ke Suku Bunga dan Properti
Lalu bagaimana semua ini memengaruhi dompet dan portofoliomu? Jawabannya ada pada kebijakan The Fed atau bank sentral AS. Data tenaga kerja yang lemah biasanya mendorong The Fed untuk menurunkan suku bunga guna memacu ekonomi.
Namun situasi saat ini agak berbeda. Carl Weinberg yang merupakan kepala ekonom di High Frequency Economics menjelaskan kepada Reuters bahwa laporan ini justru dapat mengurangi ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada bulan Desember.
Alasannya adalah data ini tidak menunjukkan lonjakan PHK yang ekstrem seperti yang ditakutkan sebelumnya akibat shutdown. Jika The Fed menahan suku bunga tetap tinggi, ini bisa menjadi kabar yang kurang menggembirakan bagi aset berisiko seperti saham teknologi namun bisa memperkuat nilai tukar Dolar AS.
Dampak suku bunga tinggi dan pasar kerja yang lemah juga memukul sektor perumahan secara telak. Sentimen pembangun rumah atau homebuilder sentiment tercatat lesu selama 19 bulan berturut-turut.
Data menunjukkan bahwa 41% pembangun rumah terpaksa memangkas harga jual mereka untuk menarik pembeli. Perusahaan besar di sektor konstruksi perumahan seperti D.R. Horton, Inc. tentu harus menavigasi tantangan berat ini di tengah biaya pinjaman yang mahal bagi calon pembeli rumah.
Oliver Allen seorang ekonom senior AS di Pantheon Macroeconomics menyebutkan dalam laporannya bahwa pemulihan pasar perumahan kemungkinan baru akan terjadi pada pertengahan 2026.
Kesimpulannya adalah kita sedang berada dalam periode transisi ekonomi yang penuh dengan data yang beragam. Sebagai investor langkah terbaik saat ini adalah tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap satu potong data saja. Perhatikan kualitas aset yang kamu miliki dan pastikan portofoliomu terdiversifikasi dengan baik untuk menghadapi potensi gejolak pasar ke depan.
Referensi:
- Forbes, Jobless Claims Rose More Than Expected Last Month To 232,000, Delayed Data Shows. Diakses pada 18 November 2025
- Reuters, US unemployment rolls swelled between mid-September and mid-October. Diakses pada 18 November 2025
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.