Jangan Asal Reinvestasi Dividen, Pahami Risiko Pajaknya
Reinvestasi dividen bisa memicu masalah pajak dan wash sale. Pahami aturan mainnya sebelum menyusun strategi investasi tahun depan.
Jakarta, Gotrade News - Akhir tahun sering menjadi momen investor meninjau ulang strategi dividen, namun reinvestasi otomatis ternyata menyimpan risiko teknis yang jarang disadari.
Pemahaman mendalam soal aturan wash sale dan implikasi pajak kini menjadi krusial agar keuntungan portofolio tidak tergerus kesalahan strategi saat melakukan penyeimbangan aset.
Key Takeaways
- Reinvestasi dividen dapat menghambat strategi tax-loss harvesting akibat aturan wash sale.
- Dividen yang diinvestasikan kembali tetap menjadi objek pajak pada tahun berjalan.
- Saham dividen cenderung defensif saat resesi namun tetap bergantung pada kualitas fundamental.
Baca Juga: 3 Saham 'Abadi' Pilihan Buffett Jelang Pensiun 2025
Menurut analisis terbaru dari Barchart, reinvestasi dividen otomatis dapat memicu pelanggaran aturan wash sale jika investor menjual saham rugi dalam kurun waktu 30 hari.
Hal ini terjadi karena pembelian saham baru melalui dividen dianggap sebagai transaksi pembelian kembali yang membatalkan klaim kerugian pajak untuk tujuan tax-loss harvesting.
Selain itu, dividen yang diinvestasikan kembali tetap dihitung sebagai objek pajak pada tahun berjalan, terlepas apakah dana tersebut diambil tunai atau dibelikan saham lagi.
Kondisi ini menciptakan kompleksitas pencatatan cost basis yang berbeda-beda untuk setiap lot saham, yang akan menyulitkan perhitungan pajak saat penjualan aset di masa depan.
Dalam konteks perlambatan ekonomi, saham dividen secara historis memang menawarkan perlindungan sisi bawah (downside protection) yang lebih baik dibandingkan saham pertumbuhan murni.
Namun, Barchart memperingatkan bahwa strategi mengejar yield tinggi tanpa seleksi kualitas fundamental justru meningkatkan eksposur risiko terhadap sektor yang sensitif secara ekonomi.
Bagi investor yang berencana hidup sepenuhnya dari dividen di masa pensiun, tantangan utamanya adalah besarnya modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan arus kas yang stabil.
Strategi income-only ini sering kali memaksa investor mengumpulkan portofolio yang jauh lebih besar dibandingkan jika mereka menggunakan pendekatan total return yang mengombinasikan kenaikan harga dan dividen.
Baca Juga: UBS: 10 Saham Multibagger 2026 di Tengah Momentum Ritel AS
Referensi:
- Barchart, 7 things you may not know about dividends. Diakses pada 31 Desember 2025
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.