Ekonomi AS 2025: Pertumbuhan GDP Tinggi, Tapi Ada Masalah Baru

Ekonomi AS tumbuh solid di 2025 berkat investasi AI, namun pengangguran meningkat dan inflasi stagnan. Simak kondisi pasar terkini

Ekonomi AS 2025: Pertumbuhan GDP Tinggi, Tapi Ada Masalah Baru

Jakarta, Gotrade News - Ekonomi Amerika Serikat menutup tahun 2025 dengan angka pertumbuhan yang terlihat solid di permukaan. Namun, data terbaru menunjukkan adanya keretakan fundamental yang cukup serius di balik angka positif tersebut.

Hal ini penting diperhatikan karena kualitas pertumbuhan ekonomi saat ini sangat tidak merata. Investor perlu memahami bahwa pendorong utama pasar hanya berasal dari segelintir sektor saja.


Key Takeaways

  • Investasi bisnis didominasi total oleh sektor perangkat lunak dan komputer, sementara sektor lain mendatar.
  • Tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak 2021, dengan manufaktur terus memangkas tenaga kerja.
  • Inflasi tertahan di level 2,7 persen meski tarif impor telah mencapai rekor tertinggi.

Baca Juga: UBS: 10 Saham Multibagger 2026 di Tengah Momentum Ritel AS

Dominasi Teknologi dan AI

Data kuartal ketiga menunjukkan ekonomi AS berekspansi dengan laju tercepat dalam dua tahun terakhir. Menurut laporan Bloomberg, lonjakan ini hampir sepenuhnya didorong oleh belanja peralatan komputer dan perangkat lunak.

Tren ini menegaskan bahwa belanja modal terkait kecerdasan buatan menjadi penopang utama ekonomi. Sebaliknya, investasi bisnis di area non-teknologi justru cenderung mendatar sepanjang tahun 2025.

Pelemahan Pasar Tenaga Kerja

Kondisi berbeda terjadi di pasar tenaga kerja yang mencatat tahun yang cukup berat. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,6 persen pada November, level tertinggi sejak tahun 2021.

Pertumbuhan lapangan kerja sangat terkonsentrasi pada sektor kesehatan dan bantuan sosial. Jika sektor tersebut dikecualikan, jumlah tenaga kerja di AS sebenarnya mengalami penurunan tahun ini.

Inflasi dan Biaya Hidup

Dari sisi harga, inflasi terbukti lebih keras kepala dari perkiraan banyak pihak. Indeks harga konsumen bertahan di angka 2,7 persen, belum kembali ke level rendah sebelum pandemi.

Kabar baiknya, tarif impor agresif yang diterapkan Presiden Trump belum memicu lonjakan harga ekstrem. Konsumen juga sedikit terbantu oleh penurunan harga bensin, meski tagihan listrik justru merangkak naik.

Lonjakan Tarif Impor

Kebijakan proteksionisme perdagangan menjadi perubahan paling drastis di tahun 2025. Tarif impor AS kini berada di level tertinggi dalam hampir satu abad terakhir.

Langkah ini berhasil menambah pendapatan negara sekitar US$30 miliar per bulan pada akhir 2025. Namun, dampaknya terhadap pengurangan defisit perdagangan masih sangat fluktuatif dan belum stabil.

Baca Juga: Jangan Asal Reinvestasi Dividen, Pahami Risiko Pajaknya

Referensi:


Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Read more