Dolar AS Diprediksi Melemah di 2026, Ini Dampak ke Aset Lain
Dolar AS diperkirakan lanjut melemah di 2026 akibat kebijakan The Fed dan faktor geopolitik. Simak dampaknya terhadap emas dan arah pasar global
Jakarta, Gotrade News - Dolar AS menutup tahun 2025 dengan kinerja terburuknya sejak 2017 dan diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan di awal 2026. Tekanan ini dipicu oleh pemangkasan suku bunga The Fed serta ketidakpastian geopolitik yang terus mengubah peta perdagangan global.
Key Takeaways
- Pelemahan dolar didorong oleh siklus pemangkasan bunga The Fed dan preferensi kebijakan perdagangan AS yang baru.
- Analis menilai fenomena ini bukan tanda dedolarisasi, melainkan fluktuasi siklus pasar yang wajar.
- Penurunan nilai tukar dolar menjadi katalis utama lonjakan harga emas dan aset pelindung nilai lainnya.
Baca Juga: Penjualan Mobil Tesla Anjlok, Kenapa Sahamnya Aman?
Kebijakan pelonggaran moneter bank sentral AS membuat aset berbasis dolar menjadi kurang menarik bagi investor global dibandingkan instrumen imbal hasil tinggi lainnya. Selain itu, preferensi pemerintahan Donald Trump terhadap nilai tukar yang lebih rendah turut menekan posisi greenback di pasar internasional.
Meski fluktuasi harga terlihat tajam, para analis menegaskan bahwa narasi "dedolarisasi" atau hilangnya dominasi dolar masih terlalu jauh untuk terjadi. Laporan kepala ekonom Wells Fargo bahkan memproyeksikan potensi penguatan kembali mata uang ini pada paruh kedua tahun depan saat siklus pemangkasan bunga berakhir.
Pelemahan mata uang fiat ini justru menjadi katalis positif bagi aset pelindung nilai seperti emas yang sempat menyentuh rekor harga tertinggi baru di atas $4.500 per ons. Investor cenderung beralih ke logam mulia untuk mengamankan daya beli di tengah kekhawatiran defisit anggaran dan kebijakan fiskal AS.

Fokus pasar kini tertuju pada dinamika internal The Fed, terutama menjelang berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Ketegangan antara kebijakan bank sentral dan keinginan eksekutif pemerintah AS berpotensi menciptakan volatilitas tambahan yang perlu diantisipasi pelaku pasar.
Di sisi lain, aset digital dan stablecoin mulai dilirik sebagai alternatif penyimpan nilai, meskipun performa Bitcoin sempat tertekan di akhir tahun lalu. Analis dari BlackRock menyoroti bahwa adopsi stablecoin di pasar berkembang justru dapat menopang relevansi dolar secara tidak langsung melalui digitalisasi akses keuangan.
Baca Juga: Neuralink Masuk Fase Produksi Massal, Operasi Otak Kini Full Otomatis
Referensi:
- Watcher Guru News, Dollar Weakness in 2026 Isn’t De-Dollarization, Analysts Say. Diakses pada 2 Januari 2026
- The National, Why 2026 could be another difficult year for the dollar. Diakses pada 2 Januari 2026
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.