Bursa AS Jatuh, Saham AI Anjlok & Data PHK Melonjak Tajam
Saham AI seperti Nvidia rontok karena valuasi. Data PHK Oktober terburuk dalam 22 tahun menekan bursa AS di tengah government shutdown
Jakarta, Gotrade News - Bursa saham utama Wall Street ditutup di zona merah pada hari Kamis, tertekan oleh dua kekhawatiran besar yang melanda investor.
Indeks S&P 500 (SP500) ditutup turun 1.1%, Dow Jones (DJI) minus 0.8%, dan indeks teknologi Nasdaq Composite (COMP:IND) memimpin pelemahan dengan anjlok 1.9% menurut data CNBC dan Seeking Alpha.
Pelemahan ini didorong oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham teknologi yang terkait Artificial Intelligence (AI) dan rilis data pasar tenaga kerja yang jauh lebih buruk dari perkiraan.
Saham AI Rontok Akibat Valuasi yang Terlalu Tinggi
Sektor AI yang sebelumnya menjadi primadona pasar kini berada di bawah tekanan kuat. Investor mulai mempertanyakan valuasi atau harga saham yang dianggap sudah terlalu mahal.
Mike Mussio, Presiden di FBB Capital Partners, mengatakan kepada CNBC bahwa valuasi saham-saham ini sudah "terlalu tinggi dan harganya seolah untuk kesempurnaan".
Penurunan terbesar dialami oleh raksasa teknologi. Saham Nvidia (NVDA), Microsoft (MSFT), Palantir Technologies (PLTR), Broadcom (AVGO), dan Meta Platforms (META) semuanya merosot tajam menurut laporan CNBC.
Advanced Micro Devices (AMD) anjlok 7%, Fortinet (FTNT) turun 6.7%, dan Oracle (ORCL) terkoreksi 3%.
Bahkan Qualcomm (QCOM) turun hampir 4% meskipun baru merilis laporan keuangan yang baik. CNBC melaporkan ini terjadi karena kekhawatiran investor bahwa Qualcomm mungkin kehilangan bisnis masa depan dengan Apple (AAPL).
Analis Seeking Alpha, Leo Nelissen, mencatat bahwa pasar kini diperdagangkan lebih dari 23 kali lipat dari pendapatan ke depan (forward earnings). Ini adalah angka yang tinggi yang membuat pasar rentan terhadap berita buruk.
Sinyal Bahaya dari Pasar Tenaga Kerja
Kepanikan pasar diperparah oleh rilis data Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mengkhawatirkan.
Menurut laporan dari Challenger, Gray & Christmas yang dikutip oleh kedua media, perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 153.074 PHK pada bulan Oktober.
Angka ini melonjak 183% dari bulan September dan naik 175% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan angka PHK bulan Oktober tertinggi dalam 22 tahun terakhir.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa tahun 2025 sejauh ini menjadi tahun terburuk untuk PHK sejak krisis keuangan 2009.
Leo Nelissen dari Seeking Alpha menyebut angka-angka ini "mengerikan" dan menjadi penyebab utama anjloknya saham-saham yang terkait dengan belanja konsumen.
Investor Pindah ke Aset Aman di Tengah Ketidakpastian
Data tenaga kerja yang suram ini muncul di saat yang genting. Pemerintahan AS saat ini masih mengalami government shutdown (penutupan pemerintahan) terpanjang dalam sejarah.
Menurut Mike Mussio kepada CNBC, kondisi ini menyebabkan kurangnya rilis data ekonomi resmi dari pemerintah. Data non-pemerintah yang mulai muncul seperti laporan PHK ini "tidak terlalu cerah".
Ketidakpastian ini membuat investor berbondong-bondong beralih ke aset safe haven atau aset aman, terutama obligasi pemerintah AS (Treasury).
Ketika permintaan obligasi naik, harganya juga naik. Akibatnya, imbal hasil atau yield obligasi turun. Imbal hasil obligasi 10-tahun (US10Y) dilaporkan oleh Seeking Alpha turun 7 basis poin menjadi 4.09%.
Selain itu, investor juga mengamati perkembangan di Mahkamah Agung AS yang sedang mendengarkan argumen mengenai legalitas kebijakan tarif era Trump.
Referensi:
- Seeking Alpha, U.S. stocks close in the red as labor market fear dominate, traders flock to bonds. Diakses pada 7 November 2025
- CNBC, Dow closes lower by nearly 400 points, Nasdaq drops 1.9% as AI stocks resume their decline. Diakses pada 7 November 2025
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.